KHUTBAH
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ،
وَفَضَّلَهُ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ بِالْإِنْعَامِ وَالتَّكْرِيْمِ،
فَإِنِ اسْتَقَامَ عَلى طَاعَةِ اللهِ اسْتَمَرَّ لَهُ هذَا التَّفْضِيْلُ فِي جَنَّاتِ
النَّعِيْمِ، وَإِلاَّ رُدَّ فِي الْهَوَانِ وَالْعَذَابِ الْأَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَهُوَ الْخَلاَّقُ
الْعَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَهِدَ لَهُ
رَبُّهُ بِقَوْلِهِ: {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمِ} صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ سَارُوْا عَلَى النَّهْجِ القَوِيْمِ
وَالصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالىَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَإِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالىَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَإِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Marilah kita meningkatkan ketakwaan
kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni dengan menjalankan
segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Di zaman yang semakin dekat dengan
hari akhir ini, kita menyaksikan suatu fenomena yaitu sebuah realita, banyaknya
orang yang mengaku beragama Islam namun tidak memahami hakikat agama Islam yang
dianutnya, bahkan tingkah laku keseharian mereka sangatlah jauh dari
nilai-nilai Islam itu sendiri.
Di antaranya adalah banyaknya kaum
muslimin di masa sekarang yang mulai meremehkan dan menyia-nyiakan salat,
bahkan tidak sedikit dari mereka yang berani meninggalkannya dengan sengaja dan
terang-terangan. Padahal dalam Agama Islam, salat memiliki kedudukan yang tidak
bisa ditandingi oleh ibadah lainnya.
Keistimewaan tersebut tergambar
dengan peristiwa isra’ dan mi’raj dimana Rasullah shalallahu
‘alaihi wa sallam menerima
wahyu perintah salat. Setelah beliau sampai di Sidratul Muntaha, Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara langsung kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Yang
demikian itu menunjukkan bahwa betapa agung kedudukan ibadah salat dalam Islam,
karena ia adalah tiang agama, di mana agama ini tidak akan tegak kecuali
dengannya. Dalam suatu hadis sahih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَأْسُ
الأَمْرِ الإِسْلَامُ وَعَمُوْدُهُ الصَلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ فِي
سَبِيْلِ اللهِ
“Pokok
agama adalah Islam (berserah diri), tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah
jihad di jalan Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 26160).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Salat adalah ibadah yang pertama
kali diwajibkan setelah ikhlas dan tauhid, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَمَآ
أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ
وَيُقِيْمُوْا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُوْا االزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُالْقَيِّمَةِ
“Dan
tidaklah mereka disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka
mendirikan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang
lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Salat juga merupakan amal pertama
kali yang akan dihisab di Hari Kiamat kelak. Di samping itu juga, salat adalah
wasiat terakhir Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada
umatnya, sebagaimana telah diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwasanya ia
berkata,
كَانَ
مِنْ آخِرِ وَصِيَّةِ رَسُوْلِ اللَّه الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُكُمْ.
“Wasiat
terakhir Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah ‘Kerjakanlah salat,
Kerjakanlah salat, dan tunaikanlah kewajiban kalian terhadap budak-budak yang
kalian miliki.” (HR. Ahmad, no. 25944)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Inilah gambaran agungnya kedudukan
ibadah salat dalam agama Islam yang kita anut. Alqur’an dan Hadis yang sahih memberikan ancaman keras bagi orang
yang meninggalkan salat. Dalam surat Al-Mudatstsir ayat 42-43 Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman,
مَاسَلَكَكُمْ
فِي سَقَر. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ
“Apakah
yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka)?” Mereka menjawab, “Kami dahulu
(di dunia) tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat.”
Adapun di dalam Hadis disebutkan
مَنْ
حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ
الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُوْرٌ وَلاَ
بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُوْنَ،
وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ.
“Barangsiapa
yang menjaganya (salat fardhu) maka pada Hari Kiamat dia akan memperoleh
cahaya, dan mendapatkan keselamatan. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya, maka
dia tidak memiliki cahaya dan mendapatkan keselamatan, serta pada Hari Kiamat
dia akan (dikumpulkan) bersama Qarun, Firaun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.”
(HR. Ahmad, no. 6540, Ad-Darimi, no. 2721, Sahih Ibnu Hibban, no. 1476.
Syu’aib al-Arna’uth mengatakan ‘Isnadnya sahih.’ Didhaifkan oleh al-Albani di
dalam Dhaif al-Jami no. 2851).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Lantas, apa hukuman orang yang
meninggalkan salat?
Ibnu Qayyim berkata, “Orang yang meninggalkan
salat, maka dia telah berbuat dosa besar daripada berzina, mencuri, dan minum
khamar. Orang yang meninggalkan salat akan mendapatkan hukuman dan kemurkaan
Allah di dunia dan di Akhirat.” (Kitab Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha,
Hal. 9).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Perhatikanlah orang-orang yang
tidak salat! Hidupnya tidak mengalami ketenangan, meskipun secara lahiriyah
hidupnya kaya raya dan mempunyai harta yang berlimpah, namun mereka sama sekali
tidak mengalami ketenangan dan tidak juga kenyamanan. Berbeda dengan orang yang
salat, ia merasa tenang dan bahagia. Melaksanakan salat dapat menenangkan hati,
karena di dalam salat mengandung dzikrullah (mengingat Allah) dan itu mebawa
kepada ketenangan batin, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
الَّذِينَ
ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ
تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d:
28)
Jiwa orang yang melakukan salat
akan mengalami ketenangan dan akan mendapatkan thuma’ninah dalam hidup. Berbeda dengan orang yang
enggan salat. Hidupnya mengalami was-was, tidak tentang, ketakutan, dan selalu
diganggu oleh setan.
Tunaikanlah salat karena ajal
begitu dekat. Laksanakanlah perintah-Nya selagi amal masih dicatat. Segeralah
bertaubat sebelum pintu-Nya tertutup rapat. Jadilah hamba yang taat demi meraih
surga-Nya yang penuh dengan nikmat.
Oleh sebab itu hadirin sekalian, janganlah
sekali-kali kita meremehkan salat apalagi meninggalkannya. Jadilah kita termasuk
hamba-hamba Alah yang selalu menjaga salat, karena kita tidak tahu berapa umur
kita yang tersisa. Berapa pun panjangnya usia kita, namun kita meyakini bahwa
kita pasti akan meninggalkan dunia yang fana ini. Dan setiap orang yang
mengadakan perjalanan pasti membutuhkan bekal. Sementara perjalanan yang satu
ini adalah perjalanan yang sangat panjang dan tidak akan kembali lagi.
Barangsiapa yang dalam perjalanan tersebut tidak memiliki bekal, maka ia
berarti telah menderita kerugian yang tak akan tergantikan dan tidak ada
bandingannya. Bagaimana seseorang selalu lalai, sementara usianya berlalu
bagaikan awan yang berarak di angkasa. Tiba-tiba saat ia dipanggil untuk
memenuhi janji yang tidak dapat ditunda-tunda (kematian), maka ia pun kemudian
mencari bekal, hanya saja yang ia dapati cuma tanah yang menghimpitnya,
sementara ia tidak mendapatkan orang yang dapat menyelematkannya atau
menolongya,
Mudah-mudahan Allah memberikan kita
petunjuk untuk melaksanakan salat yang lima waktu dan melaksanakan kebaikan sesuai
dengan syariat. Mudah-mudahan Allah menjadikan hari-hari kita penuh dengan amal
saleh yang akan membawa kita kepada kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan di
akhirat. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan hidayah pada segala urusan
kita dan memberikan petunjuk kepada kita semua dalam menapaki jalan-Nya yang
lurus, jalan orang-orang yang Allah berikan nikmat kepada mereka, jalan para
nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada, serta orang-orang yang saleh,
bukan, jalan orang-orang tersesat.
Amin Amin Ya Roibbal ‘Alamin.
بَارَكَ
الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ِليْ وَ لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ
Wihhh..bagus ni
BalasHapussağolun kızım
BalasHapus